Tak terasa sudah lama kisahmu
Tetapi, terngiang selalu
Perjuangan yang kau berikan kala itu
terus menyeru dan memburu langkahku
Harapanku,
di pagi sayup ini
Cukup sederhana
Bumi Pertiwi jadilah tanah yang suci
Bukan tanah yang penuh dusta
Retorika terkadang membuatku gerah
Bumi Pertiwipun sudah jengah
Tapi, para borjuis tetap sumringah
Tak peduli buminya telah berdarah
Ya Allah,
Berikan kekuatan pada hamba-Mu tuk kembalikan bumi menjadi suci
Jika tak banyak yang mengerti
Ku tak peduli
Cukup satu tapi memberi perubahan yang pasti
Seperti dulu,
Engkau berikan Kartini pada Bumi Pertiwi
Kartini,
Kau tetap perempuan sejati
Di kala kaummu tertindas dan tak berarti
Niatmu yang tiada dusta
Berikan semangat juang generasi Bumi Pertiwi tercinta
Nyata dan tetap mengalir walau kau tiada
Blitar, 21 April 2020
Saya melihat fenomena ini begitu ramai di hampir seluruh generasi. Bukan menerima atau menolak mentah-mentah tagar ini, tapi menelaah lebih dalam. Rasa nasionalisme telah ditanam sedari dini. Kita junjung rasa ini dimanapun diri berada. Jika kembali di bangku sekolah tentu makna rasa nasionalisme paten yakni rasa memiliki maupun cinta tanah air. Tapi, ketika sudah dihadapkan dunia kerja tentu bentuknya berbeda. Jangan hanya melihat dari fisik yang ada di luar negeri atau dalam negeri tetapi lihatlah kontribusi dan dedikasi tiap individu. Tak heran jika para pejuang devisa negara saling bersuara, karena mereka merasakan susah payahnya menjadi TKI. Para peneliti juga beropini bahwa mereka juga menerapkan rasa nasionalisme dalam bentuk karya ilmiah maupun menjadi diaspora. Tak dipungkiri juga orang-orang dalam negeri ingin dilabeli nasionalisme sejati karena berjuang di tanah pertiwi. Pancasila telah menjadi saksi bahwa NKRI sedang tidak baik-baik saja. Bagaimana bisa menjadi saksi? Kerag...
Komentar
Posting Komentar