Langsung ke konten utama

Konstantinopel hingga Istanbul University

Benteng Konstantinopel

Salah satu fakultas di Istanbul University

Berpergian ke tempat-tempat yang kaya akan cerita juang umat Islam akan membuka kesadaran bahwa yang lalu justru lebih maju. Arsitektur yang megah dan masih kokoh berabad-abad lamanya. Contoh sederhana Konstantinopel. Kampus yang saya singgahi seperti Istanbul University juga mulanya adalah masjid untuk berjuang di masa itu. Masjid sebagai pusat kehidupan, ilmu agama, kesehatan, perdagangan/niaga, sosial interaksi, ilmu umum, dan masih banyak lagi. Informasi pertama terpusat juga dari Masjid.

Tanpa teknologi mereka mampu menemukan keilmuan baru hingga merawat alam.

Tapi semua mulai rusak ketika pemimpinnya dan masyarakatnya hanya terfokus memperkaya diri.

Lupa dengan hewan dan tumbuhan adalah satu kesatuan dengan manusia.

Ketika alam sakit, perlahan kekacauan akan bermunculan.

Tapi kalau yang paling dekat kita rawat, mereka akan memberi lebih. Ada kalanya hanya sekedar membawakan oleh-oleh burung hasil buruannya (buruan kucing). Rawat hubungan kita dengan Allah, manusia, dan alam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perburuan Tiket Konferensi di Türkiye

Zulfa Ilma Nuriana dalam Koran Jawa Pos tahun 2020 Tiket pesawat yang bikin jantung up and down . Belinya aja tiga hari sebelum tanggal keberangkatan. Hubungin banyak orang di tengah malam. Gak tahu gimana proses belinya. Jalan kepepet kulalui yakni beli pada agen tiket. Awalnya dapat tiket yang perlu transit. Tapi tiket tersebut terdahului oleh yang lain, aku pun dicarikan lagi. Syukur sekali aku justru dapat tiket yang pulang pergi tanpa transit dengan maskapai Turkish Airlines.  Perjalanannya pun juga tak singkat. Hampir 12 jam di dalam pesawat Turkish Airlines. Namun tak melelahkan karena fasilitasnya begitu baik. Kunikmati dengan mendengar murotal, lagu, mengamati langit, tidur, makan, ibadah, dan menonton film pada monitor atau TV kecil. Mau menyicil penelitian, tapi tak bisa karena melihat layar laptop bikin pusing. Sempat terjadi turbulence yang cukup lama. Alhamdulillah tidak begitu terasa guncangannya meski panik juga di awal.  Perjalanan menuju konferensi Istanbul ...

Turbe of Sultan Ahmed Khan

Singkat waktu di wilayah Sultanahmed tercatat pada angan penulis. Sebuah kesempatan yang entah bisa terulang ataupun tidak. Penulis berusaha untuk membingkai beberapa catatan kecil yang diperoleh ketika menyusuri negeri Dua Benua. Salah satunya dengan berziarah ke makam keluarga Sultan Ahmed Khan. Di sini penulis merasakan hal yang beda. Mulai masuk ke makam hingga ke luar. Adapun sejarah yang teringkas sebagai berikut; The 14th Ottoman Sultan, Sultan Ahmed I, was the son of Sultan Mehmed III, and Handan Sultan. Sultan Ahmed I, the first Ottoman sultan who ascended the throne without going to starboard, changed the Ottoman succession system and brought the Akbar and Erşed system. He also wrote poems under the pseudonym "Bahti". The turbe in Sultanahmet Islamic-Ottoman Complex had been started to be built after his death and was completed in 1619 by Sultan Osman II. Sultan Ottoman ke-14, Sultan Ahmed I, adalah putra Sultan Mehmed III. Sultan Ahmed I adalah Sultan Ottoman p...