Langsung ke konten utama

Ulasan Buku Republik Jalan Ketiga


Pengarang: Soesilo Toer
Judul Buku: Republik Jalan Ketiga "Rangkuman Terjemahan Bebas Disertasi tentang Kritik Marxisme-Leninisme & Kapitalisme"
Penerbit: Pataba Press
Terbit: 2017
Tebal halaman: 96 halaman

Buku berjudul Republik Jalan Ketiga "Rangkuman Terjemahan Bebas Disertasi tentang Kritik Marxisme-Leninisme & Kapitalisme" karya Soesilo Toer ini menawarkan sebuah alternatif bagi negara Indonesia dalam mewujudkan Indonesia Emas melalui kearifan lokal. Penyampaian yang begitu menarik membuat saya tidak bosan untuk membacanya. Muatan isi yang ilmiah pun tak hilang walau menggunakan bahasa ringan.

Soesilo Toer seperti bercerita dalam kemelutnya perkuliahan di Uni Soviet dan kepulangannya di era 65-an. Ia berupaya mencoba mengkritik marxisme-leninisme karena ada anggapan bahwa sepandai-pandainya Mahasiswa di Uni Soviet kalau tidak percaya pada marxisme-leninisme tidak bakal lulus. Mengkritik adalah hal yang meragukan.

Hal ini berdampak pada disertasinya. Disertasinya harus di nilai oleh empat perguruan tinggi. Judul disertasinya, Rol torgovhi I vinansov v rasvitii ekonomiki Indonezeus (Peran Perdagangan dan Keuangan dalam Perekonomian Indonesia).

Jalan ketiga yang ditawarkan pada karyanya terfokus pada pembangunan ekonomi tanpa eksploitasi antarmanusia. Tentunya hal ini sangat bertolak belakang dengan kapitalisme yang berkembang menjadi imperialisme. Soesilo Toer mengungkapkan bahwa sistem kerja imperialisme basisnya modal dikit, hasil sebesar mungkin. Cara utamanya dengan mengeksploitasi buruh secara lebih signifikan. Sari pati dari jalan ketiga yakni membangun ekonomi sesuai dengan kemampuan tokoh berlandaskan kekayaan apa yang mereka punyai dan membebaskan diri mereka dari sistem sebelum merdeka---kolonialisme.[]


loading...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Konstantinopel hingga Istanbul University

Benteng Konstantinopel Salah satu fakultas di Istanbul University Berpergian ke tempat-tempat yang kaya akan cerita juang umat Islam akan membuka kesadaran bahwa yang lalu justru lebih maju. Arsitektur yang megah dan masih kokoh berabad-abad lamanya. Contoh sederhana Konstantinopel. Kampus yang saya singgahi seperti Istanbul University juga mulanya adalah masjid untuk berjuang di masa itu. Masjid sebagai pusat kehidupan, ilmu agama, kesehatan, perdagangan/niaga, sosial interaksi, ilmu umum, dan masih banyak lagi. Informasi pertama terpusat juga dari Masjid. Tanpa teknologi mereka mampu menemukan keilmuan baru hingga merawat alam. Tapi semua mulai rusak ketika pemimpinnya dan masyarakatnya hanya terfokus memperkaya diri. Lupa dengan hewan dan tumbuhan adalah satu kesatuan dengan manusia. Ketika alam sakit, perlahan kekacauan akan bermunculan. Tapi kalau yang paling dekat kita rawat, mereka akan memberi lebih. Ada kalanya hanya sekedar membawakan oleh-oleh burung hasil buruannya (buruan ...

Kebab Turki Bikin Nagih

  Kebab berasal dari Timur Tengah. Jadi tak heran jika kita berkunjung ke Turki, kerap menemuinya. Saya sendiri juga sering melihat gerobak bertuliskan Kebab Turki di Indonesia. Tapi, saya belum tertarik untuk membelinya. Percobaan pertama kebab ini pun diberi oleh kawan saya ketika kami di Malang, Jawa Timur. Karena tidak begitu suka mayones, saya pun enggan memakannya lagi. Kedua kalinya saya memakan kebab pada kegiatan konferensi di Turki. Lebih  tepatnya ketika kedatangan kami di tempat penginapan. Kawan-kawan yang baru saya jumpai menawari makanan tersebut kepada saya. Sebelumnya, kebabnya itu panjang tapi cepat pendek. Karena roti, daging, saus, sayur, dan mayones berpadu menjadi hidangan idola. Rasanya pun sangat berbeda dengan percobaan pertama saya.   Karena percobaan kedua yang enak, saya pun penasaran untuk mencobanya lagi. Ternyata terdapat penjual kebab yang tak jauh dari tempat penginapan. Saya pun dikejutkan dengan proses penyajiannya. Kokinya hanya ...

Kebab Türkiye: Döner

  Kenapa di kala rame-ramenya kedai kebab saya tidak rekomendasikan ke followers di sosmed? Karena rasanya sangat berbeda dengan kebab Türkiye aslinya. Hal ini dikarenakan proses pembuatan yang berbeda jauh. Mulai dari daging, kelayakan sayuran, toping, hingga sausnya.  Dagingnya di sana pemanggangannya langsung. Jadi chefnya menyayat daging besar yang dipanggang. Kemudian daging tersebut ditata dalam lembaran adonan kulitnya itu. Saya kagak tau apa sebutannya. Tekstur dagingnya lembut. Kalau di makan tanpa saus pun ada rasanya. Aromanya juga khas. Sayurnya juga sangat segar, bumbu khasnya dan sausnya pun lebih ngena di lidah.  Di sana sebutan kebab  banyak macam, salah satunya Döner ini. Tapi waktu di Türkiye ngerasain juga yang rasanya kurang cocok di lidah Asia atau yang tidak suka sayur mentah. Waktu itu kedapatan yang sayurnya mentah kek baru diambil dari kebun.