Langsung ke konten utama

Philosophy for Life and Other Dangerous Situation

 


Judul: Philosophy for Life and Other Dangerous Situation
Penulis: Jules Evans
Terbit: 2012
Penerbit: Penguin Random House
Penerjemah: Rini Nurul Badariyah
Terbit Ulang: 2020
Penerbit: PT Bentang Pustaka
Jumlah Halaman: xviii + 374 halaman

Philosophy for Life and Other Dangerous Situation merupakan judul buku karya Jules Evans. Sebuah buku yang didesain menjadi sekolah athena. Penulis seolah-olah menjadi siswa. Tapi, ketika pembaca membaca buku ini akan disuguhkan dengan berbagai kenyataan kehidupan. Tentu tak sekedar bersekolah dalam ruang akademisi melainkan real life.

Teori-teori tak sekedar basa-basi tapi nyata dengan penuh suka maupun duka. Sajian pengalaman tragis begitu menyayat jiwa. Pengalaman itu tak akan membuat pembaca semakin stress. Tetapi, mengentaskan dari lingkaran setan.

Beragam pengetahuan dikaitkan dengan filsafat seperti psikologi, politik, biologi, dll. Seperti halnya dalam ilmu psikologi, penulis menghubungkan CBT (Cognitive Behavioral Therapy) dengan kehidupan para filsuf. Berbagai petuah dan alur hidupnya tak begitu jauh dengan tahap-tahap CBT.

Itu adalah salah satu upaya penulis untuk menghubungkan ilmu pengetahuan satu sama lain. Karena pengetahuan yang saling mendukung, dapat membantu maupun mencelakakan kehidupan seseorang.

Sesi demi sesinya, penulis memberi banyak kejutan kepada pembaca. Tak hanya otak yang diajak travelling tetapi juga prinsip. Berhati-hatilah ketika nanti membaca buku ini. Salah memahami akan mengubah banyak prinsip hidupmu.

Buku ini juga mengkhawatirkan jika berada di tangan remaja yang belum memiliki prinsip atau pengetahuan tentang kondisi Indonesia dengan negara lain. Karena riset, wawancara, observasi, studi dokumen yang tersaji itu murni dari negara penulis. Jadi, pembaca haruslah kritis dan jangan langsung menerapkan solusi pemecahan masalah yang terdapat dalam buku ini.

Selain itu, pembaca lebih baiknya sudah memiliki bekal tentang karakteristik filsuf-filsuf. Karena pada buku ini, penulis akan menarik ulur pembaca dan membandingkan berbagai filsuf. Filsuf yang diuraikan dalam buku ini antara lain Socrates, Plato, Aristoteles, Aurelius, Epictetus, Phytagoras, Seneca, dll. []
loading...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Konstantinopel hingga Istanbul University

Benteng Konstantinopel Salah satu fakultas di Istanbul University Berpergian ke tempat-tempat yang kaya akan cerita juang umat Islam akan membuka kesadaran bahwa yang lalu justru lebih maju. Arsitektur yang megah dan masih kokoh berabad-abad lamanya. Contoh sederhana Konstantinopel. Kampus yang saya singgahi seperti Istanbul University juga mulanya adalah masjid untuk berjuang di masa itu. Masjid sebagai pusat kehidupan, ilmu agama, kesehatan, perdagangan/niaga, sosial interaksi, ilmu umum, dan masih banyak lagi. Informasi pertama terpusat juga dari Masjid. Tanpa teknologi mereka mampu menemukan keilmuan baru hingga merawat alam. Tapi semua mulai rusak ketika pemimpinnya dan masyarakatnya hanya terfokus memperkaya diri. Lupa dengan hewan dan tumbuhan adalah satu kesatuan dengan manusia. Ketika alam sakit, perlahan kekacauan akan bermunculan. Tapi kalau yang paling dekat kita rawat, mereka akan memberi lebih. Ada kalanya hanya sekedar membawakan oleh-oleh burung hasil buruannya (buruan ...

Kebab Turki Bikin Nagih

  Kebab berasal dari Timur Tengah. Jadi tak heran jika kita berkunjung ke Turki, kerap menemuinya. Saya sendiri juga sering melihat gerobak bertuliskan Kebab Turki di Indonesia. Tapi, saya belum tertarik untuk membelinya. Percobaan pertama kebab ini pun diberi oleh kawan saya ketika kami di Malang, Jawa Timur. Karena tidak begitu suka mayones, saya pun enggan memakannya lagi. Kedua kalinya saya memakan kebab pada kegiatan konferensi di Turki. Lebih  tepatnya ketika kedatangan kami di tempat penginapan. Kawan-kawan yang baru saya jumpai menawari makanan tersebut kepada saya. Sebelumnya, kebabnya itu panjang tapi cepat pendek. Karena roti, daging, saus, sayur, dan mayones berpadu menjadi hidangan idola. Rasanya pun sangat berbeda dengan percobaan pertama saya.   Karena percobaan kedua yang enak, saya pun penasaran untuk mencobanya lagi. Ternyata terdapat penjual kebab yang tak jauh dari tempat penginapan. Saya pun dikejutkan dengan proses penyajiannya. Kokinya hanya ...

Kebab Türkiye: Döner

  Kenapa di kala rame-ramenya kedai kebab saya tidak rekomendasikan ke followers di sosmed? Karena rasanya sangat berbeda dengan kebab Türkiye aslinya. Hal ini dikarenakan proses pembuatan yang berbeda jauh. Mulai dari daging, kelayakan sayuran, toping, hingga sausnya.  Dagingnya di sana pemanggangannya langsung. Jadi chefnya menyayat daging besar yang dipanggang. Kemudian daging tersebut ditata dalam lembaran adonan kulitnya itu. Saya kagak tau apa sebutannya. Tekstur dagingnya lembut. Kalau di makan tanpa saus pun ada rasanya. Aromanya juga khas. Sayurnya juga sangat segar, bumbu khasnya dan sausnya pun lebih ngena di lidah.  Di sana sebutan kebab  banyak macam, salah satunya Döner ini. Tapi waktu di Türkiye ngerasain juga yang rasanya kurang cocok di lidah Asia atau yang tidak suka sayur mentah. Waktu itu kedapatan yang sayurnya mentah kek baru diambil dari kebun.