Langsung ke konten utama

Ada apa dengan #KaburAjaDulu?

Saya melihat fenomena ini begitu ramai di hampir seluruh generasi. Bukan menerima atau menolak mentah-mentah tagar ini, tapi menelaah lebih dalam. Rasa nasionalisme telah ditanam sedari dini. Kita junjung rasa ini dimanapun diri berada.

Jika kembali di bangku sekolah tentu makna rasa nasionalisme paten yakni rasa memiliki maupun cinta tanah air. Tapi, ketika sudah dihadapkan dunia kerja tentu bentuknya berbeda. Jangan hanya melihat dari fisik yang ada di luar negeri atau dalam negeri tetapi lihatlah kontribusi dan dedikasi tiap individu.

Tak heran jika para pejuang devisa negara saling bersuara, karena mereka merasakan susah payahnya menjadi TKI. Para peneliti juga beropini bahwa mereka juga menerapkan rasa nasionalisme dalam bentuk karya ilmiah maupun menjadi diaspora. Tak dipungkiri juga orang-orang dalam negeri ingin dilabeli nasionalisme sejati karena berjuang di tanah pertiwi.

Pancasila telah menjadi saksi bahwa NKRI sedang tidak baik-baik saja. Bagaimana bisa menjadi saksi? Keragaman yang diseragamkan sudah terjadi di berbagai daerah dalam bentuk busana. Alhasil timbullah konflik-konflik internal yang tidak kita sadari antara menggerogoti nadi bangsa atau jiwa.

Melihat itu semua, saat ini pejuang tak lagi berlabel pahlawan melainkan juang mandiri. Karena rasa kecewa antar individu dengan individu lain yang sulit diobati, kecewa antar individu dengan kelompok yang tak dimengerti, hingga kecewa pada diri sendiri yang bisa menyebabkan hati nurani mati. Lantas siapa yang mampu memulihkan Indonesia Gelap?

Lilin-lilin bukan berupa api melainkan jati diri. Ketika dihadapkan dengan korupsi berani untuk menolak dengan penuh ambisi. Tapi sayangnya kata korupsi sendiri semakin samar. Lagi-lagi idealisme diri kerap bertolak belakang dengan kehidupan nyata yang butuh banyak dana untuk melanjutkan hidup.

Maka dari itu, benahi dulu jiwa ini lalu beranjak membantu individu atau kelompok lain yang jiwanya mulai terkikis. Dikata Indonesia Bobrok bisa juga, karena perhelatan yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin menjerit. Tidak bersuara, melainkan berjuang dalam goresan pena. Surat-surat dilayangkan untuk pejabat, berharap ada perubahan yang bermartabat.

Lapangan kerja yang semakin rumit tidak menyurutkan para pencari kerja. Ada banyak kosakata yang mewakili pengangguran. Bukan pencari kerja yang tak punya kompetensi melainkan sistem yang masih sulit dimengerti. Perubahan atau transformasi yang begitu cepat bukan memperbaiki dari akar melainkan menambah pekerjaan rumah.

Apakah surat-surat yang dilayangkan telah terbalas? Ada sedikit banyak yang sudah terjawab, tapi di sisi lain masih menanti jawaban. Indonesia Maju bukan tidak mungkin tapi menuju kesana butuh pengorbanan besar. Akankah rakyat rela untuk berkorban lebih banyak lagi. Saya rasa lebih nyaman tetap menjadi negara berkembang dengan kualitas unggul daripada Indonesia Maju dengan banyak catatan. 

Kenapa begitu? Generasi Z sudah begitu merasakan beban berat yang mereka hanya sampaikan melalui sosial media. Ditambah lagi generasi alfa yang kian merambak banyak. Percepatan transformasi dari segala lini yang tidak dibarengi moralitas tentu semakin menurunkan jiwa patriotisme. Apapun segala cara jadi dihalalkan demi melangsungkan kehidupan.

Sangat disayangkan negara Indonesia ini telah berkembang pesat sekali tapi tidak dibarengi dengan fasilitas dari negara karena maraknya korupsi di berbagai lini. Alhasil banyak anggaran negara di sektor vital harus dipangkas. Seperti halnya dana pendidikan baik untuk pengajar maupun fasilitas ajar mengajar.

Saya sepakat kepada para peneliti yang terus mengkaji manfaat program makanan bergizi, karena nyatanya masih banyak wilayah yang menerima makanan kurang layak. Alih-alih bergizi, justru basi. Miris tapi program ini sudah dirilis. Apa boleh buat, dengan bekali anak yang lebih cermat dalam proses makan.

Ketimpangan ini semakin terlihat, tapi pemerintah kesulitan menjangkau. Maka perlu sinergi yang lebih masif antara masyarakat, pemerintah hingga stakeholder terkait. Hal ini tak bisa dipandang sebelah mata, harus seluruh komponen negara bersatu. Memang tampak sulit tapi mencoba bukan hal yang mustahil. Koordinasi dan sinergi menjadi kunci untuk saat ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Turbe of Sultan Ahmed Khan

Singkat waktu di wilayah Sultanahmed tercatat pada angan penulis. Sebuah kesempatan yang entah bisa terulang ataupun tidak. Penulis berusaha untuk membingkai beberapa catatan kecil yang diperoleh ketika menyusuri negeri Dua Benua. Salah satunya dengan berziarah ke makam keluarga Sultan Ahmed Khan. Di sini penulis merasakan hal yang beda. Mulai masuk ke makam hingga ke luar. Adapun sejarah yang teringkas sebagai berikut; The 14th Ottoman Sultan, Sultan Ahmed I, was the son of Sultan Mehmed III, and Handan Sultan. Sultan Ahmed I, the first Ottoman sultan who ascended the throne without going to starboard, changed the Ottoman succession system and brought the Akbar and Erşed system. He also wrote poems under the pseudonym "Bahti". The turbe in Sultanahmet Islamic-Ottoman Complex had been started to be built after his death and was completed in 1619 by Sultan Osman II. Sultan Ottoman ke-14, Sultan Ahmed I, adalah putra Sultan Mehmed III. Sultan Ahmed I adalah Sultan Ottoman p...

Tirai Puisi

  AKU Kalau sampai waktuku Kumau tak seorang kan merayu Tidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu Aku ini binatang jalang Dari kumpulan terbuang Biar perluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih peri Dan aku akan lebih tidak perduli Aku mau hidup seribu tahun lagi Maret 1943 Perkenalanku dengan puisi sangatlah sederhana. Tepatnya di kelas X saya mendapat tugas untuk membacakan puisi di depan kelas. Puisi yang kubaca adalah karya sastrawan legendaris. Dua tanggal yang menunjukkan kematian dan kelahirannya pun diperingati sebagai Hari Puisi Nasional dan Hari Puisi Indonesia. Siapakah beliau? Chairil Anwar telah mewarnai Indonesia dengan rangkaian kata-kata. Ia dijuluki Si Binatang Jalang. Seorang yang lahir di Medan dan meninggal di Jakarta menyisakan kenang. Penyair Indonesia lainnya pun memanfaatkan tanggal 28 April dan 26 Juli sebagai momentum kenang. Puisi yang berjudul AKU telah kubacakan di...

Sastra dibalik Alam

Seorang yang suka dengan perubahan. Tetapi tak ingin meninggalkan diri dalam keramaian. Larik-larik sajak tertuang dengan penuh kisah. Alam membungkus semua yang rekayasa menjadi nyata. Sastra yang ditemuinya bukan sekedar kata. Tetapi sastra yang bersuara. Tak lihai dan tak begitu pandai dalam merangkai kata. Perjalanan yang sering dilalui dengan penuh keegoisan. Dekati alam menjauhi keramaian. Itu hal yang paling ia sukai. Keterasingan menurutnya berada dalam keramaian yang penuh kemunafikan. Kejujuran ia dapatkan di alam. Perjalanan mencapai puncak harus dilaluinya dengan beradu di jalan. Jalan-jalan yang cukup terjal segan untuk mempercepat kematian motor. Ya, mesin yang sudah berbau dan ditambah dengan knalpot yang panas. Namun, di setiap jalan rasa lelah tak begitu menjalar. Karena kanan kiri tanaman meramu kesejukan. Gelak tawa bersama kedua orang tua menambah kebahagiaan. Rasa syukur terus terucap di setiap jalan terjal. Tak jarang harus turun dari motor karena jalanan tidak be...