Langsung ke konten utama

Kampus yang Terbungkus



Ada yang hilang dan menjadi kenang. Apa kabar kampus yang tak lagi berpenghuni Mahasiswa dan Mahasiswi? Buku-buku perpustakaan pun tak lagi menjadi hidangan. Semua beralih ke webinar. Hingga banyak orang yang telah bosan. Hal apa saja sih yang telah hilang di masa pandemi?

1. Ruang kelas penuh cerita


Rasalah yang tak bisa tergantikan. Suasana kelas telah memberi berbagai kisah. Seperti halnya berebut menjawab kuis. Butuh kecepatan dan ketepatan dalam menjawab. Namun, terkadang bagi yang berpostur kecil sering tak terlihat. 

Oleh karena itu, penulis tak pernah bosan untuk menempati bangku depan. Tentunya akan mempermudah untuk dilihat dosen ketika angkat tangan, dapat mendengar dengan jelas penjelasan, dan mampu mencatat tulisan di papan. Serta, menguji detak jantung yang sering tak karuan.

2. Diskusi bersama dengan melingkar


Selain itu, tak jarang dosen menyuruh Mahasiswa untuk membuat kelompok belajar. Kelompok yang sudah tercukupi anggotanya disegarakan berdiskusi sesuai topik yang telah dibagi. Upaya menyatukan pendapat dari beragamnya jawaban menjadi tanggungjawab ketua kelompok.

Sederhana tetapi memberi banyak makna. Saat diskusi, Mahasiswa secara tidak langsung akan dituntut untuk mengolaborasikan gagasan, memberanikan diri berpendapat, dan biasanya mempresentasikan di hadapan kelompok lain. Tentunya toleransi yang tinggi diperlukan jika tidak diskusipun akan mengalami kebuntuan. Tak jarang ketegangan saat diskusi harus diredakan dengan sedikit canda tawa.

3. Perpustakaan yang menjadi tujuan Mahasiswa tingkat akhir


Tak dapat dipungkiri Mahasiswa akan berlomba-lomba mencari berbagai referensi ketika akan menyiapkan proposal skripsi. Namun, tak menutup kemungkinan Mahasiswa baru berkunjung ke sana. Walau hanya melihat-lihat macam buku kemudian keluar lagi tanpa meminjam.

Kebingungan di awal masuk perpustakaan masih banyak yang mengalami. Mulai dari cara peminjaman, buat kartu perpustakaan, dan sulitnya mencari buku yang dibutuhkan. Walaupun sosialisasi sudah diterapkan. Mahasiswa merasa kesulitan mencari buku bukan karena tidak ada bukunya melainkan tidak tau kategorinya. Banyak pula yang terlambat mengembalikan dan akhirnya kena denda berlipat ganda. 

4. Kawan debat, jajan, dan jalan-jalan


Siapa yang tak rindu dengan keluguan kawan. Heroiknya ketika menuntaskan deadline tugas. Perdebatan yang berujung candaan. Serta, bertukar cerita tentang kebudayaan maupun curhat atas cacian dan makian.

Semua terangkum tanpa sengaja. Hal ini akan sulit dilupakan. Emosi negatif dan positif terbangun hingga menumbuhkan kepekaan. Peka terhadap alam, benda maupun manusia. []
loading...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Konstantinopel hingga Istanbul University

Benteng Konstantinopel Salah satu fakultas di Istanbul University Berpergian ke tempat-tempat yang kaya akan cerita juang umat Islam akan membuka kesadaran bahwa yang lalu justru lebih maju. Arsitektur yang megah dan masih kokoh berabad-abad lamanya. Contoh sederhana Konstantinopel. Kampus yang saya singgahi seperti Istanbul University juga mulanya adalah masjid untuk berjuang di masa itu. Masjid sebagai pusat kehidupan, ilmu agama, kesehatan, perdagangan/niaga, sosial interaksi, ilmu umum, dan masih banyak lagi. Informasi pertama terpusat juga dari Masjid. Tanpa teknologi mereka mampu menemukan keilmuan baru hingga merawat alam. Tapi semua mulai rusak ketika pemimpinnya dan masyarakatnya hanya terfokus memperkaya diri. Lupa dengan hewan dan tumbuhan adalah satu kesatuan dengan manusia. Ketika alam sakit, perlahan kekacauan akan bermunculan. Tapi kalau yang paling dekat kita rawat, mereka akan memberi lebih. Ada kalanya hanya sekedar membawakan oleh-oleh burung hasil buruannya (buruan ...

Kebab Turki Bikin Nagih

  Kebab berasal dari Timur Tengah. Jadi tak heran jika kita berkunjung ke Turki, kerap menemuinya. Saya sendiri juga sering melihat gerobak bertuliskan Kebab Turki di Indonesia. Tapi, saya belum tertarik untuk membelinya. Percobaan pertama kebab ini pun diberi oleh kawan saya ketika kami di Malang, Jawa Timur. Karena tidak begitu suka mayones, saya pun enggan memakannya lagi. Kedua kalinya saya memakan kebab pada kegiatan konferensi di Turki. Lebih  tepatnya ketika kedatangan kami di tempat penginapan. Kawan-kawan yang baru saya jumpai menawari makanan tersebut kepada saya. Sebelumnya, kebabnya itu panjang tapi cepat pendek. Karena roti, daging, saus, sayur, dan mayones berpadu menjadi hidangan idola. Rasanya pun sangat berbeda dengan percobaan pertama saya.   Karena percobaan kedua yang enak, saya pun penasaran untuk mencobanya lagi. Ternyata terdapat penjual kebab yang tak jauh dari tempat penginapan. Saya pun dikejutkan dengan proses penyajiannya. Kokinya hanya ...

Kebab Türkiye: Döner

  Kenapa di kala rame-ramenya kedai kebab saya tidak rekomendasikan ke followers di sosmed? Karena rasanya sangat berbeda dengan kebab Türkiye aslinya. Hal ini dikarenakan proses pembuatan yang berbeda jauh. Mulai dari daging, kelayakan sayuran, toping, hingga sausnya.  Dagingnya di sana pemanggangannya langsung. Jadi chefnya menyayat daging besar yang dipanggang. Kemudian daging tersebut ditata dalam lembaran adonan kulitnya itu. Saya kagak tau apa sebutannya. Tekstur dagingnya lembut. Kalau di makan tanpa saus pun ada rasanya. Aromanya juga khas. Sayurnya juga sangat segar, bumbu khasnya dan sausnya pun lebih ngena di lidah.  Di sana sebutan kebab  banyak macam, salah satunya Döner ini. Tapi waktu di Türkiye ngerasain juga yang rasanya kurang cocok di lidah Asia atau yang tidak suka sayur mentah. Waktu itu kedapatan yang sayurnya mentah kek baru diambil dari kebun.